Minggu, 31 Agustus 2014

HEPATITIS B


HEPATITIS B

1) Pengertian
    Hepatitis virus akut adalah penyakit radang akut karena infeksi virus hepatotoksik (Harison, 1996,1648).
Hepatitis kronik adalah penyakit hati yang histologis bercorak sebagai nekrosis, inflamsi, fibrosis dari hepatosik dalam berbagai tingkat berat, ringan yang berlangsung lebih dari 6 bulan. Hepatitis akut virus B adalah penyakit radang hati yang disebabkan virus tipe B yang disebut dengan VHb. (Prof. dr. H.M. Syaifuloh Noer. 1996,272)
Hepatitis B adalah suatu DNA dengan sturtur genom yang sangat komplit meskipun kecil bulat meskipun dengan 3200 pasang basa.(Harrison, 1996, 1648)

2) Etiologi
Disebabkan oleh virus B cara penularan infeksi virus B yang paling banyak di kenal adalah parentral, dimana terjadi penembusan kulit atau mukosa misalnya melalui suntikan, transfusi darah, tindakan operatif, perawatan gigi, tusuk jarum, dan pembuatan tato., tetapi kemudian diketahui banyak penularan terjadi tanpa riwayat tindakan parentral dan terbukti bahwa infeksi Virus B juga ditularkan melalui parentral misalnya melalui hubungan antar individu yang erat dan hubungan kelamin. (Prof. dr. H.M. Syaifuloh Noer. 1996, 272).

3) PATOFISIOLOGI

PATOFISIOLOGI HEPATITIS B


4)  GEJALA KLINIK
Umumnya virus akut A, B, NAN B, menunjukkan gambaran klinik yang sama  melalui 4 tahap:
(1) Masa tunas (inkubasi) tergantung dari macam virus
•    Virus A            : 28 - 94 hari
•    Virus B            : 17-98 hari
(2) Masa prodromal/praikterik : 3 - 10 hari rasa lemah badan panas, mual sampai muntah, anoreksia, perut kanan nyeri.
(3) Masa ikterik : didahului urin berwarna coklat/sclera kuning, kemudian seluruh tubuh puncak ikterus dalam 1 - 2 minggu, demikian pula invrexia lemah badan dan tupatomegali suhu 39,5 - 40 0 C, urin gelap, feses seperti lempeng coklat ( clay).
(4) Sumber penularan Hepatitis B:
1.   HbsAG pada manusia
a)  Darah
b)  Air seni
c)  Tinja & sekresi usus
d)  Air Liur & sekresi nasofering
e)  Semen, sekresi vagina & darah menstruasi
2.   Cara penularan Hepatitis B
1)  Penularan melalui kulit
a)  Penularan perkutan yang nyata
-          Transfusi darah
-          Hemodialis
-          Alat suntik
b)      Penularan perkutan tidak nyata
-   Adanya mikrolesi
2)  Penulan selaput lendir
3)  Penularan perinatal
a)   Dalam Uterus
b)  Sewaktu persalinan
c)   Pasca persalinan
Penyembuhan sempurna sebagian besar terjadi dalam 3-4 bulan.
(5) Manifestasi
a.  Stadium Praikterik ® ± 4 - 7 hari
Gejala: sakit kepala, lemah, anoreksia, mual muntah demam, nyeri pada otot & nyeri di perut kanan atas, urine ® coklat.
b.  Stadium Ikterik ® 3 - 6 minggu
            Gejala: ikterus pada sklera berlanjut ke seluruh kulit, pasien masih lemah, anoreksia, muntah faeces kecoklatan seperti tanah Hat, hati membesar & nyeri tekan.
c.  Stadium pasca Ikterik ® ± pada bulan kedua
           Gejala: ikterik  mereda,   warna  urine  menjadi   normal   ®    proses penyembuhan  tergantung penyebab.

5. DIAGNOSA BANDING
Diagnosa banding harus ditegakkan dengan pemeriksaan lab.
d)  Alkoholik hepatitis
e)  Hepatitis tiposa
f)   Cytomegalo virus, Epstein barr virus
g)  Hepatitis A, C, D, E, F

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
•    Pemeriksaan laboratorium
a)  Albumin serum : menurun
b)  Darah lengkap : SDM menurun
c)   AST (AGOT)/ALT (SGPT) : awalnya meningkat
d)  Alkali fosfatase : agak meningkat
e)   Tes fungsi hati : abnormal
f)   Faeces : warna tanah Hat
g)      Bilirubin serum : diatas 2,5 mg/100 ml
h)      Tes ekskresi BSP : kadar darah meningkat
Urinalisa : peningkatan kadar bilirubin
•    Pemeriksaan darah : Hb
SGOT (> 40 unit)
SGPT(>35unit)
Tes antigen serum untuk Hb V
•    Pemeriksaan diagnostik
Adanya antigen permukaan (HB S AG) dalam serum status karier oleh adanya antibody inti hepatitis B.
•    Pemeriksaan radiology
Scan isotop hepar
Scaning CT hepar

7. PENATALAKSANAAN
1. Istirahat
2. Diet
Jika tidak mual diberikan makanan cukup kalori (30-35 kal/kg BB) dan cukup protein (TKTP). Makanan lemak tidak perlu dibatasi.
Bila pasien mual / tidak nafsu makan / muntah sebaiknya diberi perinfus.
3. Obat
•    Kortiko steroid
•    Obat yang bersifat melindungi hati
•    Jangan dberikan obat ami emetik jika perlu sekali dapat diberi golongan fenotiazin.
•    Pada kasus perdarahan berikan Vit K.

ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS B
PENGKAJIAN
(1)Biodata
Semua umur biasanya 20 - 40 tahun. Perbandingan laki-Iaki perempuan 2 -4,5:1
(2) Keluhan utama
Pasien mengatakan nyeri perut bagian kanan atas dan nyeri pada persendian, pasien mengatakan mual muntah, malaise diare, sakit kepala.
(3) Riwayat penyakit dahulu
Sebelumnya pernah menderita hepatitis B / tidak
(4) Riwayat penyakit keluarga
Apakah ibu pernah menderita hepatitis B / tidak
(5)ADL
•   Aktifitas : malaise, lemah, letargi
•   Eliminasi
Faeses berwarna kelabu/kuning muda Diare, urine berwarna coklat
•   Nutrisi
Jumlah, jenis, waktu pemberian, anoreksia, mual, muntah.
•   Istirahat tidur
Adanya nyeri dapat mengganggu tidur.
•   Personal hygiene
Mandi/diseka berapa kali perhari, gosok gigi, cuci rambut.
(6) Riwayat psikososial spiritual
Pasien cemas, gelisah, gangguang konsep diri. Pasien apatis, perasaan tidak enak.
(7) Pemeriksaan fisik
•   BB menurun < 2,5 - 5 kg
•   Keadaan umum lemah
•    Kepala : Mata : sclera ikterus, conjungtiva pucat, mata sayu, Bibir dan mukosa kering, mulut bau keton
•    Thorak : sirkulasi bradikardi
•    Kulit: turgor kulit menurun Ikterus seluruh tubuh Urtikaria dan kemerahan
•    Abdomen : nyeri tekan pada keadaan kanan atas Teraba pembesaran hati Bising usus meningkat Asites, otot tegang
•    Genetika : adanya pruritis
•    Ekstremitas : nyeri arthritis pada ekstremits ats dan bawah
(8) Pemeriksaan penunjang
•    Pemeriksaan laboratorium
a. Albumin serum : menurun
b. Darah lengkap : SDM menurun
c. AST (AGOT)/ALT (SGPT): awalnya meningkat
d. Alkali fosfatase : agak meningkat
e. Tes fungsi hati: abnormal
f. Faeces : warna tanah Hat
g. Bilirubin serum : diatas 2,5 mg/100 ml
h. Tes ekskresi BSP : kadar darah meningkat
Urinalisa : peningkatan kadar bilirubin
•    Pemeriksaan darah : Hb
SGOT (> 40 unit)
SGPT (> 35 unit)
Tes antigen serum untuk Hb V
•    Pemeriksaan diagnostik
Adanya antigen permukaan (HB S AG) dalam serum status karier oleh adanya antibody inti hepatitis B.
•    Pemeriksaan radiology
            Scan isotop hepar
Scaning CT hepar
9. Diagnosa keperawatan
1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan/keletihan skunder terhadap infeksi hepar, pengurangan energi metabolisme oleh hepar.
2. Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah.
3. Resiko penularan infeksi berhubungan dengan transmisi virus hepatitis.
10. Rencana keperawatan
1. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan/keletihan skunder
terhadap infeksi hepar, pengurangan energi metabolisme oleh hepar. Tujuan : pasien secara bertahap dapat mengingkatkan aktifitas Kriteria hasil :
•    Pasien mengekspresikan pengertian tentang pentingnya perubahan tingkat aktifitas.
•    Pasien meningkatkan aktifitas yang dilakuan sesuai dengan
kembalinya kekuasaan Intervensi :
•    Pertahankan tirah baring dengan lingkungan yang tenang.
R/ menghemat energi aktifitas, dan mencegah komplikasi yang terjadi dari adanya kelelahan.
•    Bantu pasien dalam mencari posisi yang nyaman.
R/ memberikan istirahat yang cukup.
•    Bantu dan ajarkan pasien untuk latihan rentang gerak sendi pasif atau aktif.
            R/ mencegah kekakuan sendi
•    Rencanakan waktu istirahat sesuai dengan jadwal sehari-hari.
R/ memberikan rasa nyaman dan mengurangi energi pasien.
•    Tingkatkan toleransi aktifitas secara bertahap dengan istirahat lebih banyak dan dengan bantuan lebih banyak.
R/ mencegah kekakuan sendi.
•    Kaji respon pasien terhadap peningkatan aktifitas.
           R/ mengetahui sejauh mana kemampuan paien dalam melaksanakan
           aktifitas dan dapat mencegah timbulnya kelelahan.
2.   Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah
Tujuan : pasien akan mendapatkan nutrisi dan kalori yang optimal untuk meningkatkan penyembuhan jaringan hati.
Kriteria hasil:
•    Mencapai BB yang optimal
•    Intake nutrisi adekuat
•    Mematuhi diet yang diberikan (TKTP RL)
•    Albumin:N:3,2-4,5
•    HB:N:14-16
Intervensi
•     Jelaskan pentingnya nutrisi untuk tubuh.
R/ pasien mengerti dan mau bekerja sama dalam menentukan tindakan keperawatan selanjutnya.
•     Kolaborasi dengan dokter, ahli gizi dalam menentukan kebutuhan kalori yang dibutuhkan.
 R/ memenuhi kebutuhan gizi dan kalori pasien.
•     Lakukan oral hygiene terutama sebelum makan.
R/ mencegah mual muntah dan memberi rasa nyaman.
•     Berikan makanan dalam jumlah kecil tapi sering.
 R/ untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung.
•    Perbanyak minum 2500 CC /hr jika tidak ada kontra indikasi masukan jus buah dan makanan yang mengandung karbonat karena makanan tersebut mudah dicerna.
R/ memenuhi kecukupan nutrisi pasien.
•    Timbang BB tiap hari
R/ mengetahui kemajuan pasien.
3. Resiko penularan infeksi berhubungan dengan transmisi virus hepatitis.
Tujuan : pasien dapat berpartisipasi dalam mencegah.transmisi hepatitis dengan mematuhi prinsip pengendalian infeksi. Kriteria hasil:
•    Pasien memperlihatkan pengertian tentang tingakan kewaspadaan dengan mengikuti petunjuk
Intervensi:
•    Jelaskan pada individu dan keluarga mengenai penyebab resiko penularan penyakit. R/ Hepatitis B ditrans misikan melalui produk darah/darah terkontaminasi, tusukan jarum, luka terbuka, kontak dengan saliva, feses, urine, semen.
•    Batasi pengunjung bila memungkinkan.
R/ Pasien terpajan pada proses infeksi (Khususnya respiratorius) potensial komplikasi sekunder.
•    Batasi kontak dengan alat-alat invasif.
R/ Untuk mengurangi infeksi silang dengan pasien lain.
•    Lakukan teknik mengurangi mikroorganisme yang dapat masuk ke tubuh pasien dengan cuci tangan yang benar, teknik antiseptik, teknik isolasi.
R/ Mencegah transmisi penyakit virus ke orang lain melalui cuci tangan efektif dalam mencegah transmisi virus.
11. Implementasi
Melaksanakan implementasi sesuai dengan rencana keperawatan 
12. Evaluasi
Dilaksanakan    setelah   tindakan    keperawatan    secara   paripurna   dengan membandingkan kriteria hasil dengan kondisi klien sehingga ditemukan hasil :
- Tujuan tercapai / masalah teratasi
- Tujuan belum tercapai / masalah belum teratasi
  

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, M. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Blog Riyawan |Kumpulan Artikel Keperawatan & Farmasi
Sorparman. 1990. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta : Balai Penerbit
FKU FK Unair, 1994, Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UPF Ilmu Penvakit I Surabaya: FK Unair

Blogger Tricks

Minggu, 27 Juli 2014

MYOCARDITIS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN PENDERITA
MYOCARDITIS

1.    TINJAUAN PUSTAKA

1.1.   Pengertian
Myocarditis adalah peradangan pada radang dinding otot jantung atau myocardium yang dapat disebabkan oleh virus atau jamur, demam reumatik dan tuberkulosis, infeksi bakteri, reaksi hipersensitifitas, atau terjadi dengan endocarditis atau pericarditis. Miokarditis dapat pula disebabkan oleh penyakit yang didasari oleh imun termasuk demam rematik dan penyakit Kawasaki, dan penyakit vaskuler kolagen serta obat-obatan tertentu.
(Yasmin Asih, 1993)

Myocarditis

1.2.   Etiologi
Menurut Edward (1995), penyebab terjadinya adalah :
1.1.2.      Agen infeksi
1)      Virus
-        Virus coxsackie Grup B
-        Virus ECHO
-        Influenza
-        Polio
-        Mumps
-        Morbili
-        Varisela
-        Hepatitis A dan B
-        Virus Epstein-Barr
2)      Bakteri
-        Streptokokus pneumonia
-        Stafilokokus
-        Korinebakterium difteri
-        Mikobakterium tuberkolusis
3)      Riketsia
-        Rickettsia rickettsiae
4)      Penyakit lyme
5)      Protozoa
-        Tripanosoma kruzi yang menyebabkan penyakit Chagas merupakan sebab utama kematian di Amerika Selatan dan Tengah.
1.2.2.      Terapi radiasi
1.2.3.      Hipersensitivitas obat
1.2.4.      Idiopatik (tidak diketahui)
1)      Miokarditis Friedler
-        Sering menyebabkan CHF mematikan
2)      Miokarditis sel-datia
-        Biasanya mematikan dan
-        Bisa mempunyai etiologi autoimun

1.3.   Patofisiologi
Mekanisme dasar dari kerusakan myocardial yaitu fase akut yang mana meliputi serangan myocardium dan pertemuan agent dan racun. Agent-agent myocardium akan menyerang antibodi selama beberapa bulan, yang mana proses inflamatorynya jelas.

1.4.   Komplikasi
1.4.1.      Kegagalan Jantung Congestive
1.4.2.      Meluasnya Cardiomyopathy

1.5.   Manifestasi klinik
Gejala miokarditis ini dipengaruhi oleh jenis infeksi, derajat kerusakan jantung dan kemampuan miokardium memulihkan diri. Gejalanya biasanya ringan atau bahkan tidak sama sekali. Pasien dengan miokarditis mungkin hanya mengalami kelelahan dan dispneu, berdebar-debar dan kadang rasa tidak nyaman di dada dan perut atas. Dengan adanya pemeriksaan klinis mungkin memperlihatkan pembesaran jantung, suara jantung tambahan, irama gallop dan bising sistolik. Dan biasanya terdengar friction rub pericardial bila pasien mengalami perikarditis juga. Denyut alternans ( denyut dimana terdapat perubahan reguler antara denyut kuat dan lemah ) mungkin ditemukan. Demam dan takikardia sering ada dan gejala gagal jantung kongesti bisa terjadi. (Irham, 2011)

1.6.   Pemeriksaan diagnostic
1.6.1.      Data Laboratorium
      Leukocytosis dengan Lymphocytes yang tidak normal ; ia mengakut ESR. Yang disebabkan oleh virus, ia mengakut ; CPK, LDH, SGOT
1.6.2.      ECG
-        Kerusakan hantaran LBBB
-        Non-Spesifik yang menyebabkan perubahan gelombang ST-T; gelombang Q memanjang dan sewaktu-waktu bisa menjadi gelombang QT. Tachyrrhythmias : Atrial, perbandingan – Ectopy Ventrikular C-T normal ; untuk memenuhi cordiomegaly, yang berbentuk bulat bergaris hitam : Vascular Pulmonary Kongesti.
1.6.3.      Studi Radionuclide   Galium 67 : Teahnetrium 99 M-Pyropus Phate Echocardiography.
-        Kerusakan yang menyebabkan peradangan, perubahan Neotoric dalam Myocardium. Dinding daerah yang abnormal; Ventrikel dan Hyphokinesis LV akan membesar.
1.6.4.      Biopsy Endomyocardial
-        Acut : Membesarnya Lymphocyte yang menyebabkan infiltrasi sel : kerusakan Myocyte (Pertemuan antara agent sel Myocardial dan Fibrosis Myocardial).
Dari penyembuhan Myocarditis : Menimbulkan kerusakan dan menyebabkan peradangan pada Aktip infiltrasi sel.

1.7.   Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan imunisasi yang tepat dan penanganan awal nampaknya sangat penting dalam menurunkan insidensi miokarditis. Setelah mengalami suatu episode miokarditis biasanya masih tersisa pembesaran jantung. Aktifitas fisik harus ditingkatkan dengan perlahan-lahan dan bertahap , pasien di instruksikan untuk melaporkan gejala yang dirasakan saat aktifitas meningkat seprti jantung berdenyut cepat sekali, olahraga yang kompetitif dan alkohol sama sekali harus dihindari. (Irham, 2011)

1.8.   Penatalaksanaan
Pasien diberi pengobatan khusus terhadap penyebab yang mendasarinya, bila diketahui  (misalnya penisillin untuk streptokokkus hemolitikus) dan dibaringkan di tempat tidur untuk mengurangi beban jantung. Berbaring juga membantu mengurangi kerusakan miokardial residual dan komplikasi miokarditis.pengobatan pada dasarnya sama dengan yang digunakan untuk gagal jantung kongestif.
Fungsi jantung dan suhu tubuh selalu di evaluasi untuk menentukan apakah penyakit sudah menghilang dan apakah sudah terjadi gagal jantung kongestik. Bila terjadi disritmia pasien harus dirawat di unit yang mempunyai sarana pemantauan jantung berkesinambungan sehingga personel dan peralatan selalu tersedia bila terjadi disritmia yang mengancam jiwa.
Bila telah terjadi gagal jantung kongestif, harus diberi obat untuk memperlambat frekuensi jantung dan meningkatkan kekuatan kontraktilitas.stoking elastik dan latihan aktif dan pasif harus dilakukan karena embolisasi dari trombus vena dan mural trombi dapat terjadi.
Pasien dengan miokarditis sangat sensitif terhadap digitalis, maka pasien harus dipantau dengan ketat akan adanya toksisisitas digitalis (dibuktikan dengan adanya disritmia, anoreksia, nausea, muntah, bradikardia, sakit kepala dan malaise). (Irham, 2011)


2.    TINJAUAN ASKEP
2.1.Pengkajian
2.1.1.      Aktifitas / Istirahat
Gejala : kelelahan dan kelemahan
Tanda : Takikardi, penurunan TD, Dispnea dengan aktifitas
2.1.2.      Sirkulasi
Gejala : Riwayat demam rematik, penyakit jantung kongenital, Infark miokard, bedah jantung ( CABG / penggantian katup / by pass kardiopulmonal lama ), palpitasi, jatuh pingsan.
Tanda : Takikardia, disritmia , perpindahan TIM ( Titik influks Maksimal ) kiri dan inferior (pembesaran jantung ) Friction Rub perikardial biasanya intermitten ( terdengar di batas sternal kiri ) murmur aortik, mitral ,stenosis / insufisiensi trikuspid, perubahan dalam murmur yang mendahului, disfungsi otot papilar, irama gallop ( S3 dan S4 ), bunyi jantung normal pada awal perikarditis akut , edema, DVJ ( GJK ) petekie ( konjungtiva, membran mukosa ) hemoragi splinter ( punggung kuku ) nodus osler ( jari/ ibu jari ) lesi janiwae ( telapak tangan / telapak kaki ).
2.1.3.      Eliminasi
Gejala : Riwayat penyakit ginjal / gagal ginjal. Penurunan frekuensi/ jumlah urine.
Tanda : urine pekat dan gelap
2.1.4.      Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri pada dada anterior ( sedang sampai berat/ tajam ) diperberat oleh inspirasi, batuk, gerakan menelan, berbaring, hilang dengan duduk bersandar ke depan ( perikarditis )tidak hilang dengan nitrogliserin. Nyeri dada /punggung/ sendi ( endokarditis ).
Tanda : perilaku distraksi misal gelisah.
2.1.5.      Pernafasan
Gejala : Nafas pendek ; nafas pendek kronis memburuk pada malam hari ( miokarditis )
Tanda : Dispneu nokturnal, batuk, inspirasi mengi, takipnea, krekels dan ronki, pernafasan dangkal
2.1.6.      Keamanan
Gejala : Riwayat infeksi virus, bakteri, jamur ( miokarditis ) penurunan sistem imun, misal program terapi imunosupresi
Tanda : Demam
2.1.7.      Penyuluhan / pembelajaran
Gejala : terapi IV jangka panjang atau penggunaan kateter indwelling atau penyalahgunaan obat parenteral.
Pertimbangan rencana pemulangan : DRG menunjukkan rerata 5,5 hari.

2.2.Diagnosa
1)      Potensial penurunan CO b/d faktor mekanis (preload, afterload, kontraksi) dan faktor elektrik (dysrytmias).
2)      Sakit dada b/d gesekan perikardial.

2.3.Intervensi
1)      Potensial penurunan CO b/d faktor mekanis (preload, afterload, kontraksi) dan faktor elektrik (dysrytmias).
-          Data Subyektif :
Mengeluh lelah, kehabisan tenaga, dyspnea, kelemahan (tidak berdaya).
-          Data Obyektif :
Tachykardi, tachypnea, orthopnea, pucat, diaphoresis, urine output menurun, peningkatan JVP. Bunyi napas : crickles (rales), bunyi jantung : S3, chest x-ray : redistribusi dari darah pada upper lobes, peningkatan ratio C-T.
·         Kaji tanda dan gejala penurunan CO
R : gambaran klinik pada pasien dengan myocarditis bervariasi dari tanda cardiac untuk CHF.
·         Monitor tanda vital 4 – 8 jam pada indikasi. Auskultasi bunyi napas dan jantung 28 jam.
R : Untuk mendeteksi meningkatnya tanda-tanda pada pulmonal congestif dan failure ventrikel.
·         Bedrest dengan kepala ditinggikan, anjurkan periode istirahat setiap hari.
R : Menurunkan beban kerja jantung.
·         Pengaturan medikasi sesuai instruksi.
R : pengobatan jantung yang teratur dapat meningkatkan kontraksi dan menurunkan preload dan afterload.
2)      Sakit dada b/d gesekan perikardial.
-          Data Subyektif :
Mengeluh dada sakit saat bergerak.
-          Data Obyektif :
Tidak mampu beristirahat dengan tenang, ingin untuk sit up, prekardial chest pain, inspirasi memburuk saat bergerak, bunyi jantung : gesekkan perikardial. Chest x-ray : bayangan hitam pada kardial meningkat jika ada efusi pada pericardial.
·         Kaji sifat dari chest pain.
R : Untuk membedakan sakit perikardial dan myokardial isakhemia.
·         Anjurkan bedrest, tinggikan kepala pada tempat tidur, pasien dapat bertindak untuk menyenangkan hati dengan berganti posisi pada tempat tidur.
R :  Sakit perikardial mungkin menyakitkan hati / memperburuk dengan bergiliran / berbelok – belok, sakit mungkin karena adanya kecendrungan untuk bertinak menyenangkan hati.
·         Atur analgesik sesuai instruksi
R : Memberikan keringanan gejala.

2.4.Evaluasi
1)      CO dipertahankan, dengan data indikasi tanda vital dalam batas normal, melaporkan adanya gejala, tampak nyaman, aktivitas dapat ditolerir.
2)      Pasien bebas dari rasa sakit dengan data indikasi pasien mengungkapkan dengan jujur adanya sakit dada, tampak tenang, mengikuti kegiatan rutin dalam rumah sakit, dan aktifitas tanpa sakit, tidak ada gesekkan perikardial.
3)      Tingkat pengetahuan klien meningkat, dengan indikasi : pasien mendemonstrasikan pengetahuan pada proses penyakit dan tanda dan gejala untuk dilaporkan kepada dokter.

DAFTAR PUSTAKA

Edward.(1995).Proses Keperawatan Pada Pasien Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler.Jakarta : EGC
Blog Riyawan | Kumpulan Artikel Farmasi & Keperawatan
Yasmin Asih.(1993).Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler Ed.III. Jakarta : EGC