ISPA



ASUHAN KEPERAWATAN ANAK
Dengan ISPA
(Infeksi Saluran Pernafasan Akut) dan BRONKOPEUMONI



1.      Konsep Dasar Medis
1.1       Pengertian
         1.1.1            ISPA adalah radang akut saluran pernafasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik bakteri, virus maupun riketsia tanpa disertai radang parenkim paru.
         1.1.2            ISPA adalah masuknya kuman atau mikroorganisme ke dalam tubuh manusia mulai organ hidung hingga alveoli beserta organ seperti sinus-sinus rongga telinga tengah dan pleura dan berkembang biak yang berlangsung sampai dengan 14 hari (Depkes RI,
1996 : 4)

1.2       Etiologi
ISPA dapat disebabkan oleh virus, bakteri maupun riketsia, infeksi bakterial. Penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan miksovirus, Adenovirus, Koronavirus, Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus, dll.
 
1.3       Patogenesis

Saluran pernafasan selama hidup selalu terpapar dengan dunia luar sehingga dibutuhkan suatu sistem pertahanan yang efektif dan efisien dari sistem saluran pernafasan ini.
Ketahanan saluran pernafasan terhadap infeksi maupun partikel dangas yang ada di udara sangat tergantung pada 3 unsur alamiah yang selalu terdapat pada orang sehat yaitu :
1.       Utuhnya epitel mukosa dan gerak mukosilia.
2.       Makrofag alveoli
3.       Antibodi setempat
Sudah menjadi suatu kecenderungan bahwa terjadinya infeksi bakterial, mudah terjadi pada saluran nafas yang telah rusak, sel-sel epitel mukosanya yang disebabkan oleh infeksi-infeksi yang terdahulu :
Keutuhan gerak lapisan mukosa dan silia dapat terganggu oleh karena :
1.       Asap rokok dan gas SO2 Polutan utama adalah pencemaran udara
2.       Sindroma Imotil
3.       Pengobatan dengan O2 konsentrasi tinggi (25% atau lebih)
Makrofag biasanya banyak terdapat di alveoli dan baru akan di mobilisasi ke tempat-tempat dimana terjadi infeksi. Asap rokok menurunkan kemampuan makrofag membunuh bakteri, sedang alkohol menurunkan sel-sel ini.
Antibodi setempat pada saluran nafas adalam lg A yang banyak terdapat infeksi saluran pernafasan seperti pada keadaan defisiens lg A pada anak. Mereka dengan keadaan-keadaan imunodefesiensi juga akan mengalami hal yan serupa seperti halnya pederita-penderita yang mendapat terapi sitotatik, radiasi, penderita dengan neoplasma yang ganas.
Gambaran klinik radang oleh karena infeksi sangat tergantung pada :
Ÿ  Karakteristik inokulum
Ÿ  Daya tahan tubuh
Ÿ  Umur seseorang
-         Karakteristik inokulum sendiri terdiri dari besarnya aerosol, tingkat jasad renik dan besarnya (jumlah) jasad renik yang masuk.
-         Daya tahan tubuh telah disebut di depan terdiri dari utuhnya sel epitel mukosa dan gerak mukosilia, makrofag, alveoli dan Ig A
-         Umur punya pengaruh besar terutama pada ISPA saluran pernafasan bawah anak dan bayi akan memberikan gambaran klnik yang lebih jelek bila dibandigkan dengan orang dewasa terutama penyakit-penyakit yang disebabkan oleh infeksi pertama karena virus pada mereka ini tampak lebih berat karena belum diperoleh kekebalan alamiah. Pada orang dewasa mereka memberikan gambaran klinik yang ringan sebab telah terjadi kekebalan yang diberikan oleh infeksinya yang terdahulu.
Penyebaran infeksi
Pada ISPA dikenal 3 cara yaitu :
1.      Melalui aerosol yang lembut terutama oleh karena batuk-batuk.
2.      Melalui aerosol yang lebih kasar, terjadi pada waktu batuk dan berssin.
3.      Melalui kontak langsung atau tidak langsung dari benda-benda yang telah dicemari jasad renik.
Pada infeksi virus transmisi diawali dengan penyebaran virus terutama melalui bahan sekresi hidung virus ISPA terdapat 10 – 100 kali lebih banyak dalam mukosa hidung daripada mukosa faring, dari beberapa penelitian klinik, labolatorium, maupun di lapangan diperoleh kesimpulan bahwa sebenarnya kontak “hand to hand” merupakan modus yang terbesar bila dibandingkan dengan cara penularan aerogen yang semula banyak diduga.

1.4       Klasifikasi penyakit
1.4.1     Umur 2 bulan sampai < 5 tahun
1)       Pneumonia berat, 2) Pneumonia, 3) Bukan Pneumonia
1.4.2     Umur kurang 2 bulan
1)       Pneumonia berat, 2) Bukan Pneumonia

1.5       Gejala
1.5.1     Umur 2 bulan sampai < 5 tahun
1)       Pneumonia berat : tarikan dinding dada kedalam
2)       Pneumonia
(1)   Tak ada tarikan dinding dada ke dalam
(2)   Nafas cepat
-         2 bulan sampai < 12 bulan kurang lebih 50 kali permenit
-         1 sampai < 5 tahun kurang lebih 40 kali permenit
3)       Bukan pneumonia
(1)   Tidak ada tarikan dinding dada kedalam
(2)   Tidak ada nafas cepat
-         12 bulan sampai < 5 tahun kurang 40 kali permenit
-         1 sampai < 5 tahun kurang 40 kali permenit 
1.5.2     Umur kurang 2 bulan
1)       Bukan pneumonia
(1)   Tidak ada nafas cepat : kurang 60 kali permenit
(2)   Tidak ada tarikan dinding dada dalam
2)       Pneumonia berat
(1)   Nafas cepat : kurang lebih 60 kali permenit
(2)   Tarikan dinding kedalam kuat

1.6       Penatalaksanaan
1.6.1     Umur 2 bulan sampai < 5 tahun
1)       Bukan Pneumonia
(1)   Bila batuk > 30 hari rujuk, 2) obati penyakit lain bila ada,
3) nasehati untuk perawatan di rumah, 4) bila ada wheezing obati, 5) kunjungan ulang 5 hari bila tidak ada perubahan.
2)       Pneumonia
(1)   Nasehati ibu untuk perawatan di rumah
(2)   Beri antibiotik (kotrimoksasol) selama 5 hari
-         < 2 bulan                       :  2 kali 1/8 tablet
-         2 bulan - < 6 bulan        :  2 kali ¼ tablet
-         6 bulan - < 3 tahun        :  2 kali ½ tablet
-         3 tahun - < 5 tahun        :  2 kali 1 tablet
(3)   Anjurkan ibu untuk kontrol 2 hari atau lebih cepat bila keadaan memburuk
(4)   Bila demam beri parasetamol
-         2 bulan - < 6 bulan        :  4 kali 1/8 tablet
-         6 bulan - < 3 tahun        :  4 kali ¼ tablet
-         3 tahun - < 5 tahun        :  4 kali ½  tablet
(5)   bila wheezing, obati
3)       Pneumonia berat
(1)   Rujuk segera ke sarana rujukan, 2) beri antibiotika satu dosis bila sarana rujukan jauh, 3) bila demam obati, 4) bila wheezing obati.
4)       Periksa dalam 2 hari anak yang diberi antibiotika
(1)   Tanda membaik
-         Nafasnya lebih lambat
-         Panasnya turun
-         Nafsu makan membaik
-         Tindakan : teruskan pemberian antibiotika sampai 5 hari
(2)   Tanda tidak berubah
-         Tindakan : ganti antibiotika atau rujuk ke sarana rujukan
(3)   Tanda memburuk
-         Tidak dapat minum
-         Ada tarikan dinding dada
-         Ada tanda bahaya
-         Tindakan : kirim segera ke sarana rujukan
1.6.2     Umur kurang 2 bulan
1)       Bukan pneumonia
(1)   Beri nasehat perawatan di rumah
-         Jaga agar bayi tidak kedinginan
-         Teruskan pemberian ASI dan beri ASI lebih sering
-         Bersihkan hidung bila tersumbat
(2)   Anjurkan ibu untuk kembali kontrol, bila :
-         Keadaan bayi memburuk
-         Nafas menjadi cepat
-         Bayi sulit bernafas
-         Bayi sulit untuk minum
2)       Pneumonia berat
(1)   Kirim segera ke sarana rujukan
(2)   Beri antibiotika satu dosis
1.6.3     Pengobatan wheezing
1)       Wheezing serangan pertama
(1)   Dengan distres pernafasan, beri bronkodilator kerja cepat : epinefrin (adrenalin) Subkutan 1 : 1000 = 0,1% dengan dosis ml per kg (gunakan seprit BCG)
(2)   Tanpa distres pernafasan, beri salbutanol selama 5 hari
-         2 bl - < 12 bl (< 10 kg), dosis 2 mg 3 kali ½ tablet
-         1 th – 5 th (10 – 19 kg), dosis 2 mg 3 kali 1 tablet
2)       Wheezing yang berulang
(1)   Beri bronkodilator kerja cepat
(2)   Periksa 30 meni kemudian, bila :
-         Ada distres pernafasan atau tanda bahaya : obati sebagai pneumonia berat (rujuklah ke sarana kesehatan).
-         Tanpa distress pernafasan dengan : nafas cepat, obati sebagai pneumonia (beri obat salbutamol oral dan antibiotik peroral) Tanpa nafas cepat, obati sebagai bukan pneumonia (beri obat salbutamol oral).

1.7       Dampak ISPA
1.7.1     Pengurangan absorbsi makanan
1.7.2     Kehilangan nutrisi air
1.7.3     Pengurangan masukan makanan akibat anoreksia
1.7.4     Peningkatan kebutuhan metabolic

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN ISPA
PENGKAJIAN :

1.  IDENTITAS PASIEN
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :
Agama :
Suku :
Pekerjaan :
Status perkawinan :
Tanggal MRS :
Pengkajian :
Penanggung jawab :
Regester :
Diagnosa masuk :
Alamat :

2. RIWAYAT KESEHATAN
1. Keluhan Utama
    Klien mengeluh demam, batuk , pilek, sakit tenggorokan
2. Riwayat penyakit sekarang
    Dua hari sebelumnya klien mengalami demam mendadak, sakit kepala, badan lemah,
    nyeri otot  dan  sendi, nafsu makan menurun, batuk,pilek dan sakit tenggorokan.
3. Riwayat penyakit dahulu
    Kilen sebelumnya sudah pernah mengalami penyakit sekarang
4. Riwayat penyakit keluarga
    Menurut pengakuan klien,anggota keluarga ada juga yang pernah mengalami sakit
    seperti penyakit klien tersebut
5. Riwayat sosial
    Klien mengatakan bahwa klien tinggal di lingkungan yang berdebu dan padat penduduknya

3. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik di fokuskan pada pengkajian sistem pernapasan :
1. Pengkajian tanda – tanda vital dan kesadaran klien
2. Inspeksi :
   • Membran mucosa hidung faring tampak kemerahan
   • Tonsil tanpak kemerahan dan edema
   • Tampak batuk tidak produktif
   • Tidak ada jaringna parut pada leher
   • Tidak tampak penggunaan otot- otot pernapasan tambahan,pernapasan cuping hidung,
     tachypnea, dan hiperventilasi
3. Palpasi
   • Adanya demam
   • Teraba adanya pembesaran kelenjar limfe pada daerah leher / nyeri tekan pada nodus
     limfe servikalis
   • Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tyroid
4.  Perkusi
   • Suara paru normal (resonance)
5. Auskultasi
   • Suara napas vesikuler / tidak terdengar ronchi pada kedua sisi paru

4. PEMERIKSAASN PENUNJANG

• Tanggal :
• HB :
• LED :
• Hematokrit :
• Trombosit :
• MCV :
• MCH :
• MCHC :
• Diff Count :
• Urien PH :
• Ureum :
• Kreatinin :
• SGOT :
• SGPT :
• Na :
• Kalium :
• Cl :
• AGD :
• PCO2 :
• Radiologi :
• ECG :



5. DIAGNOSA KEPERAWATAN :
DX I  Peningkatan suhu tubuh bd proses inspeksi
Tujuan : Suhu tubuh normal berkisar antara 36 – 37, 5 ‘ C
INTERVENSI
1.Observasi tanda – tanda vital
2.Anjurkan pada klien/keluarga umtuk melakukan kompres dingin ( air biasa) pada kepala / axial.
3.Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan yang dapat menyerap keringat seperti terbuat dari katun.
4.Atur sirkulasi udara.
5.Anjurkan klien untuk minum banyak ± 2000 – 2500 ml/hr.
6.Anjurkan klien istirahat ditempat tidur selama fase febris penyakit.
7.Kolaborasi dengan dokter :
   • Dalm pemberian therapy, obat antimicrobial
   • antipiretika

RASIONALISASI
1.Pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan perkembangan perawatan selanjutnya.
2.Degan menberikan kompres maka aakan terjadi proses konduksi / perpindahan panas dengan bahan perantara .
3.Proses hilangnya panas akan terhalangi untuk pakaian yang tebal dan tidak akan menyerap keringat.
4.Penyedian udara bersih.
5.Kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh meningkat.
6.Tirah baring untuk mengurangi metabolism dan panas.
7.Untuk mengontrol infeksi pernapasan
Menurunkan panas

DX II. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b. d anoreksia
Tujuan : * klien dapat mencapai BB yang direncanakan mengarah kepada BB normal.
* klien dapat mentoleransi diet yang dianjurkan.
* Tidak menunujukan tanda malnutrisi.
INTERVENSI
1.Kaji kebiasaan diet, input-output dan timbang BB setiap hari
2.Berikan makan pporsi kecil tapi sering dan dalam keadaan hangat
3.Beriakan oral sering, buang secret berikan wadah husus untuk sekali pakai dan tisu dan ciptakan lingkungan beersih dan menyenamgkan.
4.Tingkatkan tirai baring.
5.Kolaborasi
• Konsul ahli gizi untuk memberikan diet sesuai kebutuhan klien
RASIONALI
1.Berguna untuk menentukan kebutuhan kalori menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi keadekuatan rencana nutrisi.
2.Untuk menjamin nutrisi adekuat/ meningkatkan kalori total
3.Nafsu makan dapt dirangsang pada situasi rilek, bersih dan menyenangkan.
4.Untuk mengurangi kebutuhahan metabolic
5.Metode makan dan kebutuhan kalori didasarkan pada situasi atau kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi maksimal.

DX III. Nyeri akut b.d inflamasi pada membran mukosa faring dan tonsil.
Tujuan : Nyeri berkurang / terkontrol
INTERVENSI
1.Teliti keluhan nyeri ,catat intensitasnya (dengan skala 0 – 10), factor memperburuk atau meredakan lokasimya, lamanya, dan karakteristiknya.
2.Anjurkan klien untuk menghindari allergen / iritan terhadap debu, bahan kimia, asap,rokok. Dan mengistirahatkan/meminimalkan berbicara bila suara serak.
3.Anjurkan untuk melakukan kumur air garam hangat
4.Kolaborasi
Berikan obat sesuai indikasi
   • Steroid oral, iv, & inhalasi
   • analgesik
RASIONAL
1.Identifikasi karakteristik nyeri & factor yang berhubungan merupakan suatu hal yang amat penting untuk memilih intervensi yang cocok & untuk mengevaluasi ke efektifan dari terapi yang diberikan.
2.Mengurangi bertambah beratnya penyakit.
3.Peningkatan sirkulasi pada daerah tenggorokan serta mengurangi nyeri tenggorokan.
4.Kortikosteroid digunakan untuk mencegah reaksi alergi / menghambat pengeluaran histamine dalam inflamadi pernapasan.
5. Analgesic untuk mengurangi rasa nyeri

DX IV. Resiko tinggi tinggi penularan infeksi b.d tudak kuatnya pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun)
Tujuan : * tidak terjadi penularan
* tidak terjadi komplikasi
INTERVENSI
1.Batasi pengunjung sesuai indikasi
2.Jaga keseimbangan antara istirahat dan aktifitas
3.Tutup mulut dan hidung jika hendak bersin, jika ditutup dengan tisu buang segera ketempat sampah
4.Tingkatkan daya tahan tubuh, terutama anak usia dibawah 2 tahun, lansia dan penderita penyakit kronis. Dan konsumsi vitamin C, A dan mineral seng atau anti oksidan jika kondisi tubuh menurun / asupan makanan berkurang
5.Kolaborasi
Pemberian obat sesuai hasil kultur
RASIONAL
1.Menurunkan potensial terpalan pada penyakit infeksius.
2.Menurunkan konsumsi /kebutuhan keseimbangan O2 dan memperbaiki pertahanan klien terhadap infeksi, meningkatkan penyembuhan.
3.Mencegah penyebaran pathogen melalui cairan
4.Malnutrisi dapat mempengaruhi kesehatan umum dan menurunkan tahanan terhadap infeksi
5.Dapat diberikan untuk organiasme khusus yang teridentifikasi dengan kultur dan sensitifitas / atau di berikan secara profilatik karena resiko tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
• DepKes RI. Direktorat Jenderal PPM & PLP. Pedoman Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Jakarta. 2001
Riyawan.com | Kumpulan Artikel Keperawatan Farmasi
Lokakarya Dan Rakernas Pemberantasan Penyakit Infeksi saluran pernapasan akut.2004
• Doenges, Marlyn E . Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien
• Alih bahasa I Made Kariasa. Ed 3. Jakarta: EGC.
2000


Tidak ada komentar:
Write komentar